Diantara Sebuah Pelukan

Sebuah puisi karya Goenawan Mohammad yang dipamerkan oleh seorang teman berhasil membuat saya menangis.

Ya, puisi itu sangat cantik, namun berhasil mengelamkan hati saya.

Apalagi ketika di dalam puisi itu ada kalimat yang mengatakan,

Aku hanya bisa mencium wangi lehermu’ dan kalimat ‘Wah, Apa daya!’…

Saat itu juga saya berasa ditohok, tepat ditenggorokan!

Ingin teriak, tapi suara pun tercekat.

Yang ada hanya air mata yang nyaris tumpah.

Dan saya pun langsung berhamburan ketempat laki-laki itu.

Menumpahkan tangisan bak anak kecil dibahunya.

Saya peluk dia.

Dan saya memeluk dia dengan lekat.

Dia kaget. Jelas dia kaget!

Saking kagetnya dia mengatakan ‘Monyet!

Saya tak peduli dengan kata-kata itu.

Saya merasakan degup jantung saya seperti terdengar ditelinganya.

Saya peluk dia makin erat.

Dia menyempatkan diri bercanda.

(yang saya sangat tahu, itu dilakukannya untuk mengaburkan kebingungannya, karena ada orang lain disampingnya saat itu)

Saya (juga) tahu saat itu dia ingin menenangkan hati saya.

Maka dia pun memegang kepala saya.

Padahal, jika dia tak menyentuh saya pun, saya sudah

sangat bahagia karena dia biarkan saya memeluk tubuhnya.

Mencium, meresapi, hingga merekam wangi tubuhnya diingatan saya.

Dia tanya “kenapa?”

Saya diam.

Lalu saya hanya bilang “Apa daya ya Mas?!”

Saya peluk dia lagi. Kali ini makin kuat.

Saya taruh hidung saya tepat dilehernya.

Menikmati detik-detik rekaman wangi tubuhnya meradiasi kepala saya.

Makin tak bisa menahan tangis ketika saya merasakan dia menyandarkan kepalanya di kepala saya.

Saat itu, saya berpikir “Apakah ini akan menjadi pelukan pertama dan terakhir?”…

Saya melepaskan pelukan itu.

Bukan. Bukan karena dia ketakutan akan ada omongan miring esok hari.

Saya melepaskannya karena saya telah meninggalkan teman saya yang tadi memberitahukan puisi itu.

Saya kembali ke teman saya.

Tapi sial! Karena yang saya pikirkan masih laki-laki itu.

Selintas, detik itu juga saya mengimajinasikan lagi perasaan saya saat itu.

Ternyata, saya masih ingin memeluk dia lebih lama lagi.

Tanpa suara.

Hanya air mata ditengah tubuh yang berpelukan. Itu saja.

Jangan ada janji. Biar semua menjadi pencarian hidup saya dan dia saja.

Dan benar saja.

Tak tertahankan semua imajinasi itu.

Maka saya pun menghampirinya lagi.

Memeluk dia untuk kesekian kalinya malam itu.

Menjatuhkan titik-titik air mata dibahunya.

Menikmati momen sekarat tuk kesekian kali.

Kali ini dia diam.

Entah kasihan, entah bingung, entah tak peduli.

Akhirnya, ‘Masalah Teknis’ dalam hidupnya pun mengakhiri drama kami malam itu.

Saya pulang dengan sejuta pasrah.

Dan dia pulang dengan sejuta cinta untuk kekasihnya.

Sayang…

Saya dan dia tak berdaya…

Dan ini adalah puisi tragis itu…

 

Pada Sebuah Pantai: Interlude

Puisi Goenawan Mohammad

Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil.

Yakni ketika pasang berakhir, dan aku menggerutu,

‘masih tersisa harum lehermu’;dan kau tak menyahutku.

Di pantai, tepi memang tinggal terumbu, hijau (mungkin kelabu).

Angin amis.

Dan di laut susut itu, aku tahu, tak ada lagi jejakmu.

Berarti pagi telah mengantar kau kembali, pulang dari sebuah dongeng tentang

jin yang memperkosa putri yang semalam mungkin kubayangkan untukmu,

tanpa tercatat, meskipun pada pasir gelap.

Bukankah matahari telah bersalin dan melahirkan kenyataan yang agak lain?

Dan sebuah jadwal lain?

Dan sebuah ranjang dan ruang rutin, yang setia, seperti sebuah gambar keluarga

(di mana kita, berdua, tak pernah ada)

Tidak aneh.

Tidak ada janji pada pantai yang kini tawar tanpa ombak

(atau cinta yang bengal).

Aku pun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan,berberes dalam sebuah garis,

dan berkata: ‘Mungkin tak ada dosa, tapi ada yang percuma saja.’

Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil.

Dan itulah soalnya.

Di mana ada keluh ketika dari pohon itu mumbang jatuh seperti nyiur jatuh

dan ketika kini tinggal panas & pasir yang bersetubuh.

Di mana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri,

di mana mengentara bekas dalam hati dan kalimat-kalimat biasa berlarat-larat

(setelah semacam affair singkat), dan kita

menelan ludah sembari berkata: “Wah, apa daya.’

Barangkali kita memang tak teramat berbakat untuk menertibkan diri dan hal ihwal dalam soal seperti ini.

Lagi pula dalam sebuah sajak yang sentimentil hanya ada satu dalil: biarkan akal yang angker itu mencibir!

Meskipun alam makin praktis dan orang-orang telah

memberi tanda DILARANG NANGIS.

Meskipun pada suatu waktu, kau tak akan lagi datang padaku.

Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal, mungkin pula tak kekal.

Kita memang bersandar pada mungkin.

Kita bersandar pada angin.

Dan tak pernah bertanya: untuk apa?

Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk-apa.

Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga pada sesuatu yang sia-sia.

Sebab kersik pada karang, lumut pada lokan,mungkin akan tetap juga di sana –apapun maknanya –

~1973~

~ oleh Megs di/pada Juni 25, 2008.

5 Tanggapan to “Diantara Sebuah Pelukan”

  1. dalam..menusuk dan menohok..pantas saja kalau pelukan itu jadi penuh arti :D

    oia, coba tolong bilang pada seorang teman itu untuk meminjamkan kumpulan puisi Gunawan Mohammad padaku..

    iya pelukan itu juga diartikan sebagai ketiban beruang bagi dia..hohohohoho…wuah kalo itu mah, elo aja mbak yang pinjem langsung..hihihihi

  2. Baiklah mak.. akan saya tulis ulang puisi tersebut di blog saya. untuk mu tentunya…
    Tapi jangan menangis lagi yah..
    Bukankah Gunawan Muhammad bilang DILARANG NANGIS??

    huwaaaaaa…hiks..hiks..hikss…aku menangis untuk lebih merasakan hidup Abang Sayang…

  3. ah..sial!! ternyata ada yang berniat sama…antri sajalah kau bang!!! aku duluan…

    huehahahehe

    sudah…sudahh..kalian jangan kelahi…nanti dibagi satu-satu…cep..cep..ceppp…

  4. Drama lo Bo! Gue jadi inget cerita Kalong Hasibuan.Ya kalong itu terpikat pada rembulan cantik yang bertengger di dahan mendung. Sekuat cinta Narcissus, kalong dari Tapanuli Selatan itu terbang dengan keyakinan luar biasa. Tahukah kamu? Bulan itu, konon, telah lebih dulu bersurat, menyatakan kerinduan pada aktor yang tak cukup fasih melafalkan huruf r itu. Energi kalong bukan alang kepalang, angin tak sanggup menghalau,,,,

    Mau seterusnya? Jangan cemberut dulu, jangan tersinggung dulu, jangan menunjukkan ekspresi negatif dulu. Temui aja shibulhikayatnya saja yah.

    Salam,
    anwarzadah

  5. wuis belum pernah kubaca puisi secanggih itu dalem banget kaya dalemnya palung hati gue, satu kata buat yang nulis you is the best

Tinggalkan Balasan