Tak Mau Lepas Rupanya
“Kita ini setali tiga uang, Kay!” kata Art saat itu. Dia mengucapkan metafora itu setelah seseorang menelepon saya dan saya tidak menjawab telepon tersebut. Dan kalimat itu tidak akan terlontar dari bibirnya kalau saja empat menit sebelummnya dia tidak melakukan hal yang sama. Empat menit lalu, seseorang meneleponnya. Dia lihat layar telepon genggam itu dan kemudian memasukkanya kembali ke saku celananya.
Mereka duduk di dua bangku kayu. Dibawah sebuah pohon rindang. Dua puluh menit lagi tepat dini hari dan keduanya masih saling sibuk membuktikan siapa diri mereka sebenarnya.
Pembicaraan malam itu diprediksi oleh Kay sebagai pembicaraan terakhir mereka. Kay sudah mulai bosan dengan urusan yang selama ini membuatnya harus bertemu dengan Art. Ya, mereka hanya terhubung karena keduanya penikmat tetrahydrocannabinol.
Dan malam itu, Kay terpicu untuk memberhentikan urusannya dengan Art. “Kamu tahu Art? Kita ini bisa dekat, karena urusan ini saja. Mungkin kalau kamu tidak tahu aku juga suka nge-baks, kamu juga enggak akan bisa sedekat ini sama aku,” ungkap perempuan yang senang menguncir dua rambut sebahunya itu.
Laki-laki di depan Kay menatap nanar perempuan didepannya. Mata Art seperti mengajak jiwanya untuk mengingat kembali ke masa lalunya. Benar saja, dia mengungkapkan bahwa teman dekat dalam hidupnya itu bisa dihitung oleh jarinya. Dan yang bisa mengakrabkan dia dengan segelintir teman-temannya itu adalah alkohol.
Art memang seorang laki-laki yang senang bersenang-senang dengan pikirannya sendiri. Dia lebih senang berpikir tentang satu hal dan mencari jawaban dengan pikirannya sendiri, dibandingkan dengan mencari sebuah buku karya penulis terkenal yang menjabarkan apa yang dipikirkannya.Baginya, Tuhan memberikan otak kepada dirinya untuk berpikir dan mencari jawaban tentang hidup ini. Bukan untuk mencari jawaban orang lain tentang hidup ini.
Sebenarnya Kay tidak pernah merencanakan untuk menghentikan urusan dengan Art. Bukan karena Kay sudah tidak mau lagi menikmati dedaunan kering itu bersama Art. Tapi karena dia tidak ingin Art berpikiran kalau apa yang dilakukan Kay selama ini adalah sebagai cara untuk merebut hatinya dari seorang wanita yang sudah lebih dari lima tahun ini menjadi kekasihnya.
“Aku ini suka sama kamu. Lebih tepatnya sedang suka sama kamu. Jelasnya, sedang menyukai bersenang-senang bersama kamu,” tegas Kay sambil menatap lekat-lekat mata laki-laki didepannya yang sedari tadi juga menyimak wajah Kay dengan penuh senyuman.
Saat itu, Kay mencoba meyakinkan Art kalau dihatinya belum ada cinta untuk laki-laki itu. Namun beberapa kali Art menunjukkan raut keraguan atas pernyataan-pernyataan yang baru dikenalnya beberapa bulan itu.
“Okey kalau begitu,” jawab Art sedikit gamang setelah dibombardir dengan penegasan-penegasan oleh Kay. Perempuan itu menghela nafas dalam-dalam. Kepalanya bertanya-tanya apakah ini adalah malam terakhir dirinya bertemu dengan laki-laki yang sedang duduk manis dihadapannya ini.
“Iya. Mungkin setelah ini kita enggak akan ada urusan lagi,” tukas Kay terpaksa. Perempuan itu berhenti berbicara karena lawan bicara dihadapannya sedari tadi hanya menatap Kay tak henti-henti.
Hening beberapa saat. Kay masih bergelut dengan pikirannya. Dia masih ingin melontarkan pembelaan-pembelaan bahwa dia sama sekali belum ada keinginan untuk merebut hati Art dari kekasihnya, kekasih yang sudah dua tahun ini tak dijumpai Art. Laki-laki itu ikut terdiam bersama Kay, entah apa yang juga sedang bermain-main dibenaknya.
Kay akhirnya berani menengadahkan kepalanya dan menatap wajah Art. “Kamu ingat wajah aku ini. Ini adalah terakhir kalinya kita berbicara Art,” tegas Kay. Meski malam itu, Kay merasa belum mampu untuk menghapuskan Art dari hari-harinya mulai besok, tapi diaterpaksa melakukannya.
Ya. Terpaksa. Semua ini terpaksa dilakukan Kay karena dirinya merasa jenuh dengan perasaan iba dan tak tega yang selalu datang dihatinya, tiap kali Art merengek-rengek membutuhkan cannabis. Tiap kali Art melakukan aksinya itu, Kay tak bisa mengendalikan diri untuk segera mencari dan segera memberikan apa yang dibutuhkan Art
Mereka terdiam. Kay mendoktrin kepalanya untuk tidak menyesali apa yang baru saja dikatakannya. Dia baru saja membenahi tasnya dan ingin beranjak meninggalkan Art, sampai laki-laki itu mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkannya.
“Enggak. Kita bisa tetap berurusan!” ujar Art tiba-tiba. “Aku suka nonton, jalan-jalan, dan bengang-bengong. Dan kamu bisa memilih salah satu dari itu supaya kamu bisa tetap berurusan dengan aku,” katanya.
Tak bisa berkata-kata. Kay benar-benar tidak menduga Art akan mengajukan penawaran-penawaran itu. Dia meragu apakah yang baru saja dikatakan Art juga disadari oleh laki-laki itu. Pernyataan terakhir Kay, memang terdengar gampang. Tapi dia masih berpikir apakah jawaban dari tawarang Art yang juga sebenarnya cukup gampang itu.
“Aku belum mencintai kamu Art. Sebenarnya saat ini adalah saat yang tepat untuk pergi dari kamu. Karena saat ini aku hanya menyukai kamu. Belum juga ada perasaan cinta yang mungkin nantinya bisa membuat aku ingin memiliki kamu. Kalaupun ada rasa sayang, itu hanya setangkup saja. Belum menggunung. Kita tidak akan pernah menyakiti kalau aku pergi sekarang. Tidak akan ada lahar panas yang bisa menyakiti kita kalau aku pergi sekarang. Tapi apa? Apa yang kamu ucapkan barusan bagaikan sebuah tawaran kompromi Art! Padahal selama ini aku menilai kamu sebagai sosok yang praktis dan tidak mau ambil pusing dengan segala hal. Tapi malam ini, kamu mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak pernah aku duga, apalagi harapkan. Tidak. Tidak dari mulut kamu. Aku tidak mempersiapkan diri untuk mendengar tawaran itu Art! Dan apa yang kamu katakan barusan, sepertinya saat ini kamu sudah menyayangi aku, sehingga Kamu mengucapkan penawaran itu karena tidak mau aku lepas begitu saja darimu. Apakah benar begitu Art? Apakah benar kamu sudah memiliki rasa sayang itu?” ujar hati Kay yang memberondong jiwanya sendiri dengan pernyataan dan pertanyaan yang tidak akan pernah terdengar oleh Art.