Dia kira hanya dia sendiri yang merasa sakit. Memang, katanya manusia itu lebih suka memilih memainkan peran korban, dari pada menjadi pelaku. Tapi tidak untuk kali ini. Dia merasa sakit, karena disini dia yang menjadi korban sekaligus pelaku yang menyakiti hatinya sendiri.
Kenapa? Tidak tahu, jawabannya. Dia tidak tahu ketakutan apa yang menghantuinya hingga menjatuhkan diri sendiri ke dalam kubangan dangkal namun penuh bebatuan itu. Juga tidak tahu apa yang membuat dia tidak meminta tolong meski batu-batu itu telah membuat kakinya berdarah. Dia hanya bisa berusaha menepi, namun tidak kuat…ah lebih tepatnya belum mau…untuk berdiri dan melanjutkan perjalanan yang entah kemana itu.
Dia duduk. Menyeka-nyeka darah dengan kain perca yang ditemukannya. Tapi kain kecil itu tidak mampu membebat darahnya. Darah itu tetap keluar, meski tidak membuncah. Cairan merah marun itu mengalir tipis membasahi telapak kakinya. Ya dia memilih untuk tidak meminta pertolongan siapapun.
Dia coba menikmati peran dia sebagai pelaku dan korban dalam waktu bersamaan. Walau darah itu beberapa kali dirasakannya nyeri karena tak kunjung mengering, dia tetap duduk ditempat itu. Hatinya mengatakan, dia tak ingin menjejakkan darah di sepanjang perjalanan selanjutnya (yang belum dia rencanakan juga).