Ragu berdoa untuk tidak didatangi cinta lagi.
Saya benar-benar tidak tahu apa yang saya inginkan saat ini.
Mendekat lagi – Menjauh lagi.
Diam lagi – Bicara lagi.
Saya tidak paham tentang pikiran saya saat ini.
Tak ingin cerita pada siapapun.
Hanya ingin mengulang-ngulang ingatan yang ‘membosankan’ sendiri.
Tanpa mereka.
Kali ini, hanya ada kamu.
Dua kali. Sampai saat ini memang baru dua kali film itu mendadak terputar kembali di kepala saya. Film tentang ingatan saya atas perasaan-perasaan yang membuncah satu tahun lalu. Satu tahun lalu ketika saya bersama dia.
Kami memang tidak pernah memiliki surat bukti resmi bahwa kami adalah pasangan. Tapi ketika bibir kami menyatu dipantai satu malam itu, rasanya resmi sudah sebuah hubungan saya dimulai dengan dia. Ya, semua tidak lagi perlu ditanyakan. Rasa sayang dia kepada saya, sepertinya cukup seimbang. Di beberapa malam, sering kali dia memeluk saya sambil mengatakan bahwa dia sangat menyayangi saya. Kecupan di mata saya yang menurutnya adalah harapan agar saya selalu mengingat dia tiap kali saya membuka mata, menjadi hadiah yang dihujaninya berkali-kali.
Pernah, setelah satu malam saya menginap ditempatnya, saya dibuatnya kalang kabut. Karena malam itu hingga keesokan siangnya, dia tidak memberikan saya ciuman manis lagi. “Kamu mau ninggalin saya ya?” tanya saya kala itu. Dia tanya kenapa saya sampai bicara seperti itu. Dengan bodohnya saya mengungkapkan alasan, “Lalu kenapa kamu enggak mencium saya hari ini?”. Dia lantas tertawa sembari memeluk saya. Tak ada keraguan disana ketika saat itu dia membanjiri wajah saya dengan ciuman-ciumannya. Tidak tahu apa alasannya, yang saya ingat saya menangis bersamaan kecupan di mata yang berkali-kali dilakukannya saat itu. (lagi…)
Dia kira hanya dia sendiri yang merasa sakit. Memang, katanya manusia itu lebih suka memilih memainkan peran korban, dari pada menjadi pelaku. Tapi tidak untuk kali ini. Dia merasa sakit, karena disini dia yang menjadi korban sekaligus pelaku yang menyakiti hatinya sendiri.
Kenapa? Tidak tahu, jawabannya. Dia tidak tahu ketakutan apa yang menghantuinya hingga menjatuhkan diri sendiri ke dalam kubangan dangkal namun penuh bebatuan itu. Juga tidak tahu apa yang membuat dia tidak meminta tolong meski batu-batu itu telah membuat kakinya berdarah. Dia hanya bisa berusaha menepi, namun tidak kuat…ah lebih tepatnya belum mau…untuk berdiri dan melanjutkan perjalanan yang entah kemana itu.
Dia duduk. Menyeka-nyeka darah dengan kain perca yang ditemukannya. Tapi kain kecil itu tidak mampu membebat darahnya. Darah itu tetap keluar, meski tidak membuncah. Cairan merah marun itu mengalir tipis membasahi telapak kakinya. Ya dia memilih untuk tidak meminta pertolongan siapapun.
Dia coba menikmati peran dia sebagai pelaku dan korban dalam waktu bersamaan. Walau darah itu beberapa kali dirasakannya nyeri karena tak kunjung mengering, dia tetap duduk ditempat itu. Hatinya mengatakan, dia tak ingin menjejakkan darah di sepanjang perjalanan selanjutnya (yang belum dia rencanakan juga).
Sepertinya mau meledak…
Hanya butuh beberapa langkah untuk memicu sensasi ledakan…
Juga hanya butuh satu kata untuk membakar sumbu ledakan…
Saya dan dia sedang bermain dalam lingkaran api…
Entah siapa yang akan terbakar di akhir permainan…
Jangan takut menghabiskan waktu seumur hidupmu dengan saya
Karena tak akan bosan saya mempelajari tentang kamu
Halaman buku saya tidak akan pernah habis bercerita tentang kamu
Bahkan dari diam kamu akan saya jadikan kisah menarik
Begitupun dengan marahmu nanti yang akan menjadi kisah merah jambu
Jangan kau anggap semua wanita akan menyakitimu
Karena saya akan berusaha untuk tidak menorehkan darah dari kulitmu
Jika mereka pernah membuatmu meradang
Maka saya yang akan mendinginkanmu tapi tidak membekukanmu
Tak perlu pikirkan tentang pesta pernikahan yang mewah
Karena tak akan saya menuntut sebuah pesta pernikahan yang meriah
Saya hanya ingin ada kamu, saya dan orang-orang yang tahu tentang perjalanan cinta kita di halaman belakang rumah
Dan kita pun tak perlu memainkan drama satu hari disana untuk terlihat bahagia
Jangan katakan kalau saya hanya berkhayal
Karena ada tangan kamu dan saya yang akan menjadikannya nyata
Juga tentang kenyataan akan adanya satu anak laki-laki dan perempuan dirumah kita
Ya. Saya sudah menuliskan nama Kay dan Red di halaman tengah buku kita
Yang akan membuat buku catatan hidup kita lebih panjang
Ternyata bener begitu…
Kalo kata orang kita bakalan ngerasa keilangan kalo orangnya sudah enggak ada
Begitulah yang terjadi sama gue sekarang
Iya, itu anak sekarang emang lagi berada di tempat jauh disana
Dan gue akhirnya merasa kalah karena kehilangan
Padahal sebelum dia pergi gue enggak pernah ngerasa begini
Ya mungkin karena gue tahu dia ada dimana
Meski enggak tahu juga saat itu dia ngapain dan sama siapa
Gue enggak ngerasa ada yang hilang
Tapi sekarang…
Padahal udah nganterin dia juga.
Eh, masih ajah dihujani rindu tanpa alasan.
Arrgh..
Hanya dua kali saya berinteraksi dengan kamu
Pertama hanya dengan huruf-huruf di aplikasi chating facebook
Kedua hanya percakapan non verbal
Lebih tepatnya hanya sedikit tatapan dan sedikit senyuman
Tapi kenapa selalu ada perasaan menggelegar tiap ada perubahan di halaman facebook kamu???
Saya tidak suka dengan kata ‘terlambat’
Apalagi untuk urusan cinta
Rasanya tidak akan pernah ada kata ‘terlambat’
Untuk mengungkapkan cinta
Wanita…
Kerap terlalu tinggi menempatkan diri
Terlalu sering menunda untuk mengatakan rasa cinta
Padahal mereka tahu dengan jelas bahwa pria bukan lah peramal
Yang bisa mengerti ‘cinta’ dari perbuatan ataupun sekedar tatapan

used to be
Cheers…
Besok saya akan merayakan ulang tahun pertama…
Genap satu tahun saya mencintai laki-laki itu…
Mari bersulang…
Semoga masih akan ada banyak keajaiban yang terjadi…